Senin, 30 Mei 2011

Alvin Toffler VS Taneh Karo Simalem


Alvin Toffler, futuris asal Amerika dalam bukunya Third Wave (1980), menyodorkan konsep pembagian gelombang masyarakat dalam tiga masa. Gelombang pertama adalah revolusi pertanian, dimana masyarakat sudah mulai mengenal tata cara pertanian yang menetap dan hidup dari hasil-hasil pertanian, gelombang kedua disebut revolusi idustri, ditandai dengan pemanfaatan mesin-mesin industri untuk produk massal. Gelombang ketiga yang saat ini sudah mulai berlangsung adalah informasi.
Dalam bidang penulis... kami menyikapi pendapat Pak Alvin seperti ini: manusia berperang akan menggunakan alat ekonominya, pada masa revolusi pertanian, alat-alat perang akan menggunakan alat-alat pertanian, seperti parang, pedang, tombak, dll. Pada revolusi industri, manusia berperang dengan alat-alat mesin, seperti senapan, tank, kapal, dll. Pada saat ini dan kedepan, manusia berperang menggunakan informasi dan sering disebut abad ini adalah abad informasi (Siapa yang menguasai informasi, maka dia akan berkuasa).
Taneh Karo Simalem mungkin tidak pernah didengar oleh Alvin Toffler dan barangkali juga tidak ada hubungannya (Ndohsa ..... nina Juhar ah). Tetapi konsep pemikiran Alvin Toffler, apakah tidak akan berlaku di Taneh Karo Simalem ?. Kelihatannya berlaku. Kalau berlaku bagaimana kita menyikapinya, suatu konsep berpikir yang begitu gamblang dibeberkan dan telah banyak diadopsi oleh banyak institusi tentunya perlu juga kita terima di Taneh Karo Simalem.
Sumber mata pencaharian di Taneh Karo Simalem, sampai saat ini masih dominan dari pertanian (apakah kita masih berada pada revolusi pertanian ??), sedikit sekali industri berkembang di Taneh Karo Simalem, kalaupun ada hanya industri kecil dan industri rumah. Saat ini orang sudah berada di abad informasi dan sudah banyak yang mencicipi madunya, bagaimana dengan kita.
Maka sudah saatnya kita mulai menyongsong abad baru ini, marilah kita hidup sesuai masa-nya. Kembangkanlah pertanian dalam skala industri dengan ditunjang oleh penguasaan akan informasi. Alangkah indahnya bila kita dapat mengolah Jagung menjadi bahan roti di Taneh Karo dan dijual langsung ke Eropah atau Amerika. Pulu kampong kutanta mereken informasi cuaca ras rega-rega senuan-senuan alu mengikuti informasi arah internet si lit bas kantor kepala desa. Emaka lit ka sireban selop ras bulang/songkok bas batang jong nari i dayaken ku Malaysia ras Kanada.

Bas bulan enem enda kerja tahun kutanta, ruh kam. Lit je gatgat perbesi. Palu gendang ena penggual, ban laguna Perkantong Samping salihna ku Chaiya-Chaiya....

Tanjung Pinang, Mei 2011.

Gambar dimabil dari: http://karosiadi.blogspot.com