Minggu, 14 Desember 2014

Arih - arih, Erban Yayasan Tualah Sirulo (sebuah pemikiran)

RENCANA GARIS BESAR (RGB)
PENDIRIAN “YAYASAN TUALAH SIRULO”
( Berbasis Web atau Jejaring Sosial)



1.            PENDAHULUAN

Desa Perbesi sebagai desa tempat kelahiran, desa identitas (suku Karo mengenal desa asal sebagai identitasnya) dan sekaligus sebagai desa tujuan pulang kampung (kuta kemulihen) adalah pemersatu yang dapat dijadikan sebagai sarana komunikasi dan wadah sosial.  Desa Perbesi sekaligus juga dapat menjadi objek kegiatan sosial  yang  akan memberi manfaat bagi penduduknya. Adalah tanggung jawab sosial bagi seluruh pribadi yang berakar dari desa Perbesi untuk turut berbuat baik bagi desanya, walau sekecil apapun kontribusinya.
Penduduk yang berasal atau berakar dari desa Perbesi, sudah cukup banyak di luar desa Perbesi maupun di desa Perbesi sendiri dan hidup dari beragam lapangan pekerjaan, sebagian besar masih memiliki ikatan emosi dengan desa Perbesi serta berkeinginan berkontribusi bagi perkembangan positif desa Perbesi dan penduduknya.
Desa Perbesi adalah desa yang sedang berkembang, namun sebagaimana layaknya sebuah desa yang sedang berkembang, sering mengalami pasang surut dalam kegiatan sosial ekonominya. Khususnya dalam bidang pendidikan, perlu terus digiatkan, sehingga akan bertambah preatsi-prestasi dari anak-anak dari desa Perbesi. Atas dasar tersebut, pendirian sebuah yayasan yang berbasis sosial dan non profit dirasakan perlu dibentuk, sebagai wadah komunikasi dan aksi positif antar komunitas Perbesi dengan desanya.

2.            BENTUK YAYASAN

             a.            Struktur Organisasi
            Organisasi yang ingin dibentuk adalah sebuah yayasan sosial dan non profit dengan struktur                organisasi terdiri dari :

1)            Dewan Pengarah. Sejumlah orang yang dipilih dari anggota, bertugas menentukan /menetapkan kebijakan dan aksi  sosial yayasan.  Kebijakan yang ditetapkan diusulkan oleh anggota yang kemudian dirapatkan dan diputuskan oleh Dewan Pengarah.

2)            Koordinator Umum. Adalah orang yang ditunjuk dan dipilh sebagai penggerak dan menjalankan adminsitrasi  yayasan.  

3)            Koordinator Wilayah.     Koordinator di wilayah-wilayah seluruh bumi. Berusaha untuk mencari sebanyak mungkin personel yang mau berkontribusi baik dalam bentuk pemikiran maupun dana bagi kuta Perbesi.

4)            Bidang Komunikasi dan Publikasi.             Yayasan yang dibentuk berbasis Web, dengan membuka sebuah situs, di Facebook atau media sosial lain. Sehingga dibutuhkan bidang komunikasi dan Publikasi yang mengelola situs.

5)            Bidang Keuangan.  Nama bidang ini dapat ditentukan dengan istilah lain, yang bertugas menampung dan mengelola keuangan yayasan.

6)            Bidang ............ ( Bidang lain yang dianggap dibutuhkan).

b.                  Bentuk Kegiatan Yayasan.

Yayasan bergerak dalam bidang sosial dan non profit yang ditujukan kepada penduduk dan  desa Perbesi.  Bidang utama adalah pendidikan. Sasaran utama adalah merangsang kemauan belajar dan berprestasi, dengan bentuk: pemberian pengharagaan atas prestasi, beasiswa, pengadaan fasilitas penunjang pendidikan, dll.

c.         Keanggotaan

       Anggota yayasan adalah semua orang yang menyatakan menjadi anggota dan bila memiliki akun media sosial menjadi member pada situs yayasan.  Bagi anggota yang tidak memiliki akun media sosial, dicatatkan oleh bidang komunikasi di situs yayasan.

d.            Pembiayaan

               Dana yayasan murni dari donatur anggotanya.  Dana dikumpulkan dalam satu nomor rekening yayasan (bila yayasan sudah memiliki badan hukum) atau nomor rekening yang dibuka oleh bidang dana. Besar donatur tidak mengikat,mulai dari Rp. 10.000-an sampai nilai tertentu, namun nilai maksimal bisa dibatasi sampai nilai tertentu misalnya Rp. 100.000 – Rp. 200.000,-/bulan untuk satu anggota/Donatur. (Bisa didiskusikan, maksudnya agar melibatkan semua orang sebanyak mungkin. Sehingga tujuan yang sebenarnya yaitu kepedulian secara moral setiap orang terhadap kampungnya bisa tercapai)

3.            MEKANISME KEGIATAN YAYASAN

a.            Penjaringan  Kegiatan/Aksi Sosial. Usulan kegiatan atau aksi  sosial, diusulkan oleh seluruh anggota, menyangkut bidang kegiatan yayasan. Usulan dapat dilakukan setiap saat.

b.            Rapat Dewan Pengarah. Dewan pengarah mengadakan rapat untuk menetapkan atau memilih usulan anggota yang akan dilakukan menjadi aksi yayasan (objek aksi sosial). Rapat Dewan Pengarah dilakukan:

1)            Insidentil.            Setiap saat, bila terdapat permasalahan yang perlu segera ditanggapi.

2)            Rapat Rutin.       Setiap enam bulan sekali. Untuk mengevaluasi aktifitas yayasan dan menentukan aksi sosial yang akan dilakukan.

3)            Kegiatan rapat dapat dilakukan dengan pertemuan langsung maupun melalui chating di Media sosial.

c.     Melakukan aksi sosial. Atas hasil rapat dewan pengarah, aksi sosial kemudian dilakukan. Kegiatan ini dapat direalisasikan oleh Dewan Pengarah, Koordinator maupun anggota yang ditunjuk.

4.            PENTAHAPAN PENDIRIAN YAYASAN

a.        Tahap Penjajakan/Persiapan.  Tahap persiapan dengan mengumpulkan personel dan pribadi yang se-ide, serta memulai kegiatan yayasan. Tahap ini, dimulai bulan Januari 2015 sampai pada bulan Juni 2015, dimana aksi yayasan akan dimulai dengan memberikan Beasiswa kepada anak berprestasi tingkat SMP di SMPN-Perbesi ( contoh kegiatan).

b.       Tahap Pemantapan. Setelah dimulai pada tahap penjajakan, kemudian dilakukan evaluasi yang kemudian dilanjutkan dengan menetapkan  AD/RT yayasan serta sebagai yayasan berbadan hukum atau bentuk lain. Diharapkan selesai pada bulan Desember 2015.

c.          Tapah Pengabdian.         Menjalankan yayasan sesuai dengan tujuan yayasan dan atas dasar AD/RT. Di mulai awal tahun 2016.

Catt.

a.    Apabila anggota aktif/donatur tetap dapat terjaring 100 orang. Dan bersedia mendonasikan uang Rp. 50.000/Bulan, maka dalam setiap bulan terkumpul dana Rp. 5.000.000,-. Dapat digunakan untuk dana beasiswa sebagai motivasi bagi anak-anak di desa Perbesi.

b.            RGB ini hanya berupa usulan dan sebagai bahan diskusi. Perlu usulan lain...

c.          Yang diperlukan saat ini adalah: Pribadi yang bersedia menjadi Admin pada web – group yayasan yang akan dibentuk.

d.            Pribadi yang bersedia sebagai penampung dana.

e.            Dan tentu saja pribadi yang bersedia me njadi donatur.


Sebagai Bahan Pemikiran 
Jakarta,   Desember 2014

Napindo Sebayang.

Kamis, 11 Desember 2014

.


BUAH  BARA

Buah bara, kekelengen nande bapa
Megenggeng, ula pertewas
Perkeleng, ula melewas
em pagi asam gelundu ............

Bagi kuliki erlajar kabang, kam kepe
pengidahndu la terbalengi
perjingkangndu la terambati
Metenget nakku ula melantar .........

Ref ...

Kuja gia pagi 
Geluh mabai kam
Ku kelbung si mereben, ku uruk si meganjang
la tersilahken, la kebiaren
Totongku pagi nemani kam

Anakku, buah bara kekelengen
Taluken Sura – surandu
Tutusi sekolahndu
Em pagi asam geluhndu

 Anakku buah bara, kekelengen nande bapa
Anakku buah bara, kekelengen mama mami
Anakku buah bara, kekelengen bibi bengkila
Anakku buah bara, Tuhanta pagi simasu-masu

Jakarta,  Oktober 2014.

Kamis, 31 Juli 2014

Masuk Kuliah (Berkat Sekolah) - Modal Semangat



Tahun 2014 ini, bagi keluarga kami, adalah tahun perjuangan sekolah. Anak kami Denis, akan menyelesaikan SMA-nya dan mencari tempat kuliah. Bagi kami, ini suatu peristiwa yang besar, dengan alasan pemikiran: ternyata kita sudah tidak muda lagi karena akan segera meng-kuliah-kan anak, dia anak tertua yang akan menjadi contoh (teladan bagi adiknya), tanggung jawab terhadap "Sebayang Mergana Ndube" yang sudah meng-kuliah-kan kami dan pertimbangan finansial (serpi) mengingat biaya kuliah sekarang sangat tinggi. Maka, kami mengingat kembali petuah (pedah) "Sebayang Mergana Ndube", nina: "Adi kita doko nak, arah sekolah e nge ngenca maka banci ku tiga, sebab labo mbelang tanehta, labo kita kalak bayak, pemetehta pe kurang emaka tutusi erlajar". Maka motivasi yang sama, kami sampaikan ke anak kami, dengan cara penyampaian dan bahasa yang sedikit berbeda, campor-campor je bahasana, cakap karo, bahasa Indonesia tahpe manggeris mon-mon ikut ka pe bahasa tangis (beru ginting)

Tahun 1980-an, sampai 1990-an pada masa-masa kami sekolah, di Kuta Perbesi, semangat orang tua untuk menyekolahkan anak begitu tinggi, kebanggaan orang tua adalah, anaknya yang sekolah atau kuliah. Anak kuta Perbesi puluhan bahkan mungkin ratusan kuliah di Medan, Bandung, Yogja dan kota-kota lainnya. Entah bagaimana caranya orang tua mengadakan biaya kuliah, maka bagi kami yang kuliah di Medan, menunggu bus Garuda 35 (motor Tavip) bus satu-satunya Perbesi-Medan PP adalah penantian berbuah senyuman. Kata-kata Bati Sebayang, "Nah... kirimenmu kera, tutus tem sekolah e, mbengkong bapam ncari kenca". bukan sebuah hinaan, tapi kata-kata indah karena dapat kiriman duit dari kampung.       

Saat-saat sekarang ini, untuk dapat kuliah, rasanya lebih sulit, baik dari persaingan untuk mendapat tempat kuliah di  PTN maupun PTS dan biaya kuliah yang semakin tinggi. Sehingga perlu  persiapan yang lebih serius. Tapi bukan tidak bisa, pemerintah ternyata menyediakan beasiswa bagi anak-anak yang kurang mampu dari sisi biaya. Syaratnya hanya satu BERPRESTASI entah pe MEJILE NILAINA. Untuk berprestasi ini tentu perlu SEMANGAT, TUTUS tah MEGENGGENG tambah nurong lau biang

Tahun 2014, khususnya PTN, menerapkan berbagai cara seleksi menjaring mahasiswa-nya.  Seleksi yang pertama adalah jalur SNMPTN atau dikenal dengan jalur Undangan, menjaring mahasiswa berdasarkan prestasi di SMA, jumlahnya 60 % dari jumlah mahasiswa yang akan diterima. Sisanya 40 %, di isi melalui jalur SBMPTN (ujian tulis) dan bagi universitas tertentu seperi UI, UGM, USU, masih ada jalur masukan seperti SIMAK UI, USM, UM, Mandiri dan istilah lain yang kuotanya juga dari 40 % sisa jalur SNMPTN tersebut. Semakin akhir mendapat kursi universitas, maka biayapun semakin tinggi. 

Disamping PTN maupun PTS,  sebenarnya MASIH ada SEKOLAH-SEKOLAH KEDINASAN  seperti AAL, AAU, AKMIL, AKPOL, STAN, STIS, STIN, STPDN, DLL kalau tidak salah, saat ini sembilan departemen/kementerian masih menyelenggarakan sekolah kedinasan yang biaya kuliahnya gratis alias la nggalar bahkan ada yang diberi uang saku/gaji. Saratna sada ngenca tutus gelah mejile nilai, la banci kusik-kusikken perban lit je mama entahpe bengkila-nta.

Anak kami Denis,  atas dukungan doa dan berkat Tuhan, masuk di universitas yang dia cita-citakan. Namun orang tua sempat  was-was juga.

E-maka tutusi ndu kam anak-anak kami si sangana bas SMA, sada ngenca modalta adi kita Perbesi nari, tutus sekolah ras erdahin. Erminak talah perbesi, er-gizi cih ras nurong lau biang. Tuhan simasu-masu.

Cilangkap,  Juli 2014

Minggu, 18 Agustus 2013

KEPALA - KETUA

 (Bentuk Organisasi dan Nama Jabatan pada Organisasi Sosial/Keagamaan)

Keberhasilan sebuah organisasi sosial/keagamaan terlihat dari  tingkat partisipasi anggota/umat berdasarkan kesadaran/iman
   

Organisasi adalah sekumpulan orang yang membentuk wadah dalam rangka mencapai tujuan yang disepakati atau dirumuskan bersama. Dalam menjalankan organisasi untuk mencapai tujuan tersebut, tentu saja harus memperhatikan perkembangan lingkungan dan sudah mnejadi prinsip, bahwa harus selalu ada kejelasan dalam tujuan, pekerjaan dan pembagian tugas. Untuk menjalankan organisasi ini, maka dibentuklah perangkat kerja organisasi atau struktur jabatan, biasa disebut: manajemen, pengurus, badan pekerja, direksi, panitia dan lain-lain, sesuai dengan bentuk organisasi yang ingin dibentuk dan berdasarkan tujuan organisasi. (sedikit teoritis yang kusut, he..he..he..)

Terus.....apa hubungannya dengan judul diatas "KEPALA - KETUA". Kata ini, sering digunakan menjadi julukan atau nama jabatan pada organisasi.  Tentu saja pemberian nama jabatan tersebut dibuat, sudah berdasarkan kajian, pengalaman organisasi, tinjauan historis, pengujian dan sebagainya, bukan asal dibuat, apalagi dibuat-buat. Kepada mereka dibebankan tugas, amanat, tanggung jawab untuk memimpin  dalam mencapai tujuan organisasi. Maka kitapun menghormati, menghargai sang KEPALA dan si KETUA apalagi kalau dia sebagai Kepala Ketua (Kepalanya para Ketua ) atau Ketua Kepala ( Ketuanya para Kepala). Pada organisasi tertentu, misalnya organisasi yang sifatnya menuntut hirarkis atau instruktif, nama jabatan KEPALA atau KETUA adalah tepat.  .
     
Bagaimana pada organisasi sosial/keagamaan ?. Nama jabatan Kepala atau Ketua serta bentuk organisasi yang menghadirkannya, sepertinya kurang tepat  pada manajemen/kepemimpinan  dalam organisasi yang mempunyai misi sosial/keagamaan. Malah sebaliknya, dengan pemberian nama jabatan seperti ini, sang Kepala atau si Ketua akan merasa punya hak untuk dilayani, punya hak untuk diistimewakan punya hak untuk didengar perkataanya serta hak-hak lainnya. Maka  tidaklah heran, apabila kita kemudian  melihat Ketua dalam organisasi keagamaan bertindak layaknya seorang Ketua Partai, Ketua  Adat atau Kepala Daerah dan partisipasi anggota/umat menjadi kecil dan ironisnya partisipasi tersebut kadang bukan timbul atas kesadaran, tetapi atas anjuran, atas rekayasa, atas pengkondisian , sehingga partisipasi tersebut tidak menjadi berkualitas dari sisi keagamaan/bukan berdasarkan IMAN. Tentu saja ini hanyalah kasuistik, bukan terjadi pada setiap lembaga sosial/keagamaan.
   
Kemudian akan timbul pertanyaan, bentuk organisasi bagaimana yang kiranya tepat  pada organisasi sosial/keagamaan  sehingga  dapat meningkatkan partisipasi anggota/umat, dengan kualitas kesadaran yang tinggi sehingga berkualitas sosial/keimanan.  Saat ini, bentuk organisasi dan model kepemimpinan/manajemen, telah berubah, hal tersebut dipengaruhi oleh lingkungan yang juga semakain cepat berubah. Tampilan pemimpin yang kita lihat berhasil saat ini adalah pemimpin yang melayani  (ada kepala daerah menerapkan, dan menjadi sangat berhasil).  Dalam model kepemimpinan seperti ini, tingkat partisipasi anggota juga menjadi sangat tinggi, serta inovasi dan inisiatif  selalu timbul.  Pemimpin yang melayani, bukankah ini misi agung gerakan sosial dan keagamaan. Bentuk organisasinya dibuat sederhana, bukan hierarki, bentuknya mendorong partisipatif bukan menunggu instruksi.  Sehingga pada organisasi fungsional hanya berbentuk koordinator dan pelayanan. Pada organisasi struktural, hanya koordinator, pelayanan dan dewan pengawas. Nama jabatannya dibuat khas sosial/keagamaan atau budaya. Sehingga tidak akan menjadi heran, apabila seorang manajer puncak sebuah perusahaan rela menjadi pemungut sampah dalam sebuah gerakan sosial dan seorang pejabat pemerintah bersuka cita  dalam  pelayanan  mengepel lantai  gereja, masjid atau kuil. 

Tulisan ini hanyalah angin lalu, berhembus tanpa niat mengusik, hanya berlalu dan senyap, wuushhh....... Tidak bermaksud menggurui apalagi mengajari, tidak perlu ditanggapi atau capek-capek membacanya , apalagi memikirkannya. Boleh dicibir, boleh dimaki , boleh juga dikutuk, asal dikutuk jadi  yang baik. 

Tanjungpinang, Agustus 2013.

Senin, 01 Oktober 2012

Taneh Karo - Medan Perjuangan Kemerdekaan RI

Berhubung bulan Agustus 2012 bersamaan dengan bulan puasa, maka tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, pada tahun ini, Pemkot Tanjungpinang menyelenggarakan lomba gerak jalan memperingati hari Kemerdekaan RI pada bulan September 2012. Gerak jalan ini memperlombakan gerak jalan 17 Km, 8 Km dan 45 Km. Peserta bebas, boleh dari mana dan siapa saja, hanya dipersyaratkan, kelompok minimal 10 orang. Beratus-ratus kelompok peserta mengikuti, mereka berasal dari instansi-instansi pemerintah, lembaga swasta, instansi militer, RW, RT bahkan kelompok yang membawa nama genk, lorong, gang, jalan, toko juga Parpol. Berbagai bentuk penampilan mereka perlihatkan, ada yang menggunakan kostum pejuang, ada juga berpakaian ala tukang sihir, nelayan, petani, pakaian daerah. Apa yang ditampilkan dan apakah akan mendapat piala serta hadiah kejuaraan tidaklah penting bagi mereka, karena hanya ada satu maksud, Semangat Memperingati Hari Kemerdekaan RI. Banyak kegiatan serupa yang dilakukan di daerah daerah lain, walaupun berbeda bentuknya.

Taneh Karo Simalem, pada tahun-tahun awal kemerdekaan sampai agresi militer ke-dua tahun 1949 adalah Medan Perjuangan mempertahankan kemerdekaan RI, bahkan jauh sebelumnya di beberapa wilayah sudah ada peperangan merebut kemerdekaan. Mari kita mengingat kembali, sejarah Perang Kemerdekaan di Taneh Karo. Tentara Republik Resimen IV bersama-sama dengan Laskar Rakyat Resimen Napindo Halilintar yang kemudian menjadi Sektor III Sub Teritorium VII, dan juga barisan rakyat lainnya, berperang mempertahankan kemerdekaan RI di Karo Area Taneh Karo Simalem. Makam Pahlawan Kabanjahe, nama-nama jalan di Kabanjahe, Lagu Karo Perkantong Samping, Padang Sambo, Erkata Bedil,  cerita pilu orangtua kita tentang kehilangan kerabat dan anaknya di medan pertempuran maupun pada saat mengungsi, juga minimnya jejak budaya Rumah Adat Karo karena habis terbakar di hampir setiap desa di Taneh Karo. Semuanya ini adalah bukti nyata adanya perjuangan mempertahankan kemerdekaan RI di Karo Area.  Beribu cerita dan fakta sejarah tentang perjuangan kemerdekaan di Taneh Karo sering kita dengar, karena kita ada di dalamnya, mengalaminya dan merasakannya, Taneh Karo adalah salah satu Medan Perjuangan dalam mempertahankan kemerdekaan RI.

Apakah jejak-jejak sejarah ini, semangatnya, serta jiwa perjuangannya masih ada tersisa dan dapat dirasakan di Taneh Karo Simalem ?. Apakah benih-benih perjuangan yang telah ditanamkan oleh para pendahulu kita dengan cucuran keringat, darah dan air mata akan habis dirmakan oleh burung-burung pengembara, musnah dihempaskan oleh angin lalu, kering meranggas karena kemarau berkepanjangan. Kita bilang jangan...., sekali lagi...... jangan....... !!!.

Mari kita berikan ruang untuk menyuburkan kembali nilai perjuangan itu, kita jaga dari serangan burung burung dan hempasan angin lalu, kita sirami saat kemarau. Anda bisa melakukannya, anda sanggup melakukannya, iya ...... Anda......, khususnya bapak, oe...kam....pe. Kegiatan yang dilakukan oleh Pemkot Tanjungpinang (bas kuta kalak enda labo  nanamina mengungsi e ) adalah salah satu bentuknya, dapat dilakukan pada tingkat Kabupaten, Kecamatan maupun Desa. Kami yakin akan banyak ide dalam ranah IPOLEKSUSBUDHANKAM yang dapat digali untuk tetap mempertahankan nilai perjuangan ini di Taneh Karo Simalem. Hanya satu tujuan, Mengisi Kemerdekaan RI dengan Kemakmuran bagi seluruh rakyat, yang tentunya, hanya akan dapat dicapai dengan semangat dan nilai perjuangan. Merdeka....... ras......... Mejuah-juah. (Rasa geram dan gundah saat 17-an).

TPI Okt 2012.


Rabu, 25 Juli 2012

Jambor Sebayang "Siwah Binangun"


Enggo Kenca Nini Raja Lambing, i bebasken ibas bayangen Raja Pencawan nari, erjabu ia ras beru Perangin-angin Kuta Buloh, maka tuboh telu anakna. Sada dilaki dua diberu. Anak sidiberu: sada i perdemui Ginting Tampune, ras sada nari iperdemui Brahmana Mergana. Sada anak dilaki emkap Sebayang Mergana Generasi Pemena, erjabu, i pupusna telu anak dilaki, enda me Sebayang Mergana generasi peduaken. Enggo me nini si telu enda erban rumahna tersada ?, maka enggo lit  penggelaren rumah tah jamborna ?. Enggo nge ia ngasup, tah pe engkai maka ban na tersada rumahna. Adi nai, tentu rumah enda, rumah adat, silang-langna rumah si empat jabu.  
Tahun 1980-an, kenca dung sekolah SD i kuta Perbesi, lawes kami nadingken kuta guna sekolah. Emaka ibas wari libur kenca, mulih ka ku kuta. Seh i Rumah Jahe, kuta Perbesi, enggo kenca iamparken tas bas tengah jabu, nina Nande Beru Ginting ndube, “ Ente ku Rumah Bapam gugong ah ko, Bapam  rumah berneh ah, Bapam sadah, Bapam  sade, ngata ko maka engko mulih ku kuta”.  E ma berkat ka, ngata enggo mulih, man kerina tutor er bapa, kerina bapa mekacar, nungkuni uga kerna persekolah ma lenga bo molah-olah. Kenca sade, ku kede, jumpa ras abang-abang tah pe tegun senina, lit si ngajak ngkawil, erburu tah pe muat tengguli. La lit bedana, kerina tegun bapa akap kami senina kandung bapa, bagepe senina la lit bedana seri ras senina kandung. Adi turang beru Bayang, kerina melias, adi tegun agi kerina la erdobahen mehamat. Emaka adi sungkuni kalak kami, apai seninandu tahpe turangndu nina, kerina sada kesain kataken kami, sebab la kin teh kami bedana. Endam nilai kekeluargaan Sebayang Mergana.
Emaka ngolih ka kita ku nini si telu nda, adi la perban la bancina, ngidah riahna kapna ersenina, adi telu dengang ia, labo akap kami banna  rumahna tersada. Emaka ninta, bas nini si telu enda lenga lit rumah/jambor penggelaren. Teluna nini enda mupus anak di laki tertelu ka, emaka enggo siwah Sebayang Mergana, endam Sebayang Mergana generasi peteluken. Enggo melala Sebayang mergana, emaka mulai me ia berbahan rumah. Tiap-tiap rumah bagi biasana rumah kalak Karo si nai, lit ciri khasna simulihi tangkel jadi gelarna, lit si melige potongenna, lit arah berneh, lit ka simeganjang, tahpe jambor rumah e hiasenna bagi batang lada,  tahpe melala merpatina. Emaka i gelari me rumah e : Rumah Tersek, Jambor Lada, Jambor Berneh, Rumah Derpih, Jambor Merpati, Jambor Kedundong, Rumah Lige, Jambor Ganjang, Ulun Jandi. Janah tandana ia ersada ibahanna Jamborna Sada, siwah binangunna, ngatakenca ia siwah erseniina. Endam Jambor si nigelari “Jambor Siwah Binangun”.  Sebayang si siwah sada jambor.
Rumah Jahe, Juni 2012.

Senin, 18 Juni 2012

Landek –Tari Pergaulan Internasional


Landek –Tari Pergaulan Internasional


Landek, atau Menari  Karo, apakah ada yang istimewa ?. Apakah sama dengan Tor-tor, Jaipong, Tari Melayu, Joget Dangdut, Samba, Cha-cha, Dance atau tarian lain. Kalau di lihat dari cara menarinya, mungkin tidak jauh berbeda, secara umum adalah menggerakkan badan, tangan dan kaki mengikuti irama musik. Kami tidak memiliki pengetahuan tentang jenis-jenis tari, tujuan menari  atau teori-teori tari sehingga tidak mampu mengelompokkan tari-tari tersebut.  Tujuan kami hanya ingin memaknai bahwa Tari Karo atau LANDEK ternyata memiliki nilai yang sejajar dengan tari-tarian yang dikenal luas sebagai perangkat pergaulan internasional.
Kita akan bangga apabila, tari Piso Surit, Roti Manis atau Lima Serangke, di tarikan/dipertunjukkan dalam acara-acara budaya pada tingkat Nasional atau Internasional apalagi bila disaksikan oleh para pejabat dalam forum resmi. Namun kita bisa mencapai yang lebih lagi, kita akan lebih bangga apabila masyarakat Jawa, Minang, Sunda, China, Bulgaria, Rusia, Inggris, USA dan bangsa lainnya Landek.

ok penggual, play the music "Odak-Odak and Patam-patam”.  Nina kalak Amerika ras Inggris dung kenca acara diner entahpe bas kerja nereh empo bas kuta nah. Emaka landek ia je kerina, melket sorana ersurak ras tawa. "Surak guy", nina ka...

Bage kape kalak Sunda ras Minang, : ”ketimbang ernehen kalak er- jaipong ras er-tari piring, sekali-sekali kita lah landek” nina salu cakap Jawa ras Minang. 

Apakah ini mungkin ?......
Ada nilai dasar yang berbeda antara Landek dengan tari-tarian suku lain. Kebanyakan tarian dari suku lain, adalah tarian pertunjukan atau tarian penyembahan/religius, yang ditarikan oleh orang tertentu/penari, sedangkan hadirin yang lainnya hanya menonton. Landek, disamping tari pertunjukan juga sebagai tari pergaulan (mungkin ada istilah lain), dimana semua hadirin dapat menari bersama berpasangan, baik secara bergiliran maupun massal. Landek sama seperti Dance, Rock and Rool, Flamengo, Samba, Dll. Dan untuk menarikannya tidak perlu latihan khusus berhari-hari apalagi berbulan-bulan. Cukup mengetahui Endek, Lempir Tan dan gerakan  maju, mundur serta putar yang sangat sederhana sudah dapat Landek sampai puas.   
Apa bedanya dengan joget yang sudah mulai mendunia ?. Joget hampir tidak mempunyai pakem tari, joget terkesan hanya melepaskan rasa di hati dalam bentuk gerak tubuh, kurang memperhatikan nilai etika dan estetika, terlalu bebas sehingga tidak ada nilai kebanggaan apabila mampu melakukannya. Sedangkan landek memiliki pakem tari, dalam gerakannya ada nilai keindahan (estetika) yang tidak terbatas serta menjunjung tinggi etika.  Ini lah makna Landek dalam konteks globalisasi.
Sekarang barangkali yang perlu dilakukan adalah : yang pertama, kita menghargai landek sebagai Seni Karo yang bernilai, kemudian kita buat pakem gerakan dasar Landek yang sederhana, sopan dan elegan serta  mengikutsertakan landek dalam acara-acara resmi. Ise memprakarsaisa e, isepe banci si lit kengasupenna guna sienda. Sebagai gerakan awal man kam si banci ngelaksanakenca, ban Landek Non stop 12 Jam catat bas Rekor MURI. Landek gelarna labo Tari Karo.  Tah payo tah lang enda, sentabi kami.  Pecek keyboard ena per-kibot yah, ban laguna, kirim salam, odakken rikut ras patam ken. Landek Sebayang Mergana ras Kemberahenna, biak bayak banci radu ras biak kempu, biak anak sekaleka panggongna.   Teretie-ei-ei-tttt, bulnang, pong.      

Tanjungpinang, Juni 2012 

Selasa, 15 Mei 2012

Bulan Juni i Kuta Perbesi

"Bulan Juni i Kuta Perbesi".

Kesannya sedikit romantis, seperti sebuah judul lagu. Tapi ini bukan judul sebuah lagu Karo, atau setidaknya belum menjadi judul lagu. Namun bila rangkaian kata ini diucapkan kepada setiap orang yang berasal dari Kuta Perbesi,....... mereka pasti akan teringat akan kampung halamnnya, teringat akan suasananya. Ada gairah......, ada kerinduaan......, ada rasa gembira, sedih, gundah, ......... 
Mengapa ?, Engkai ?. Karena akan tiba "Merdang Merdem". Kerja Tahun kata anak-anak muda. Sampai saat ini keramaian terbesar di Kuta Perbesi masih pada saat Merdang Merdem.  Awal bulan Juni, sudah terasa suasananya :

" La ko mulih Merdang Merdem enda tongat"
" iiii... mulih nim, la lit tambangna, lit kin jena rehen ndo, dua mulih sada pe bancing."

" Mantek nge kena tahun enda kadih ?" 
" Mantek nak e, enggo ku tempahken kubayangku pe, megara kuban rupana, doko cerlak pagi ia".

" Piga tumba perbantendu Bengkila...,nangdangi keri ee.?
" Lima tumba permen..... Ruh kuakap impalndu kerina tahun enda, ula kam pagi lupa teritesna."

" Ise perkolong-kolongna kerja tahunta nda nake.....?"
" Tahun  enda, maka teh ko, Ayu Ting Ting ras Inul si tudongi ... Uga akapmu, ma engggo cot."

Berbagai persiapan dilakukan, ada yang memperindah rumah, membangun kuburan orang tua yang sudah meninggal, membeli berbagai perlengkapan dan perhiasan, ada juga yang "ngereh". Ada yang senang, tidak sedikut pula yang pening atau poning (sedikit diatas pening dan pusing). Ini lah Merdang Merdem, jalani saja.....

Ada apa dengan Merdang Merdem ?, apa maksud dan tujuannya, apa makna di baliknya ?.
Setiap etnis mempunyai acara serupa yang mungkin berbeda bentuknya. Ada yang sudah terlupakan dan ada yang masih tetap dilestarikan, dan kita salah satu etnis yang masih melestarikan. Setiap masyarakat yang hidupnya berdekatan dengan alam, hidup dari hasil bumi, akan mengenal acara serupa. Kegiatan tersebut merupakan ungkapan rasa sukur kepada Tuhan atas aktifitas yang telah dilakukan dalam satu tahun, inilah makna hakikinya. Bentuknya adalah saling megunjungi mempererat persaudaraan (sidahi-dahin), memperlihatkan rasa hormat (mehamat), mengasihi (sikeleng-kelengen). Bagi muda-mudi (anak perana - singuda nguda) memperlihatkan bahwa dia sudah  tumbuh menjadi suatu pribadi utuh (enggo mbelin ras ertanggung jawab, adi nai enggo ikut bas Aron  ku juma).
Dalam konteks kekinian, bagaimana kita memaknai Merdang Merdem ini, manfaat apa yang dapat kita ambil disamping makna di atas tadi. Begitu besar dana yang dibelanjakan, waktu yang diluangkan,  tenaga yang digunakan dan orang yang dikumpulkan. Mestinya bisa diambil keuntungan dari berbagai  sisi.   Bila kita telaah dari komponen hidup berbangsa dan bernegara : Dari sisi Ideologi dan Politik mari kita per-erat kesadaran berbangsa dan kebersamaan, jangan sampai momen ini malah digunakan jadi ajang politik praktis pada tingkat desa. Dari sisi Ekonomi ini bukan arena pemborosan dan ercidah-cidah, tapi kalau bisa saling menolong, memotivasi dan memberi pencerahan. Dari Sosial Budaya ini lah kesempatan kita  memperindah seni dan budaya Karo, jadikan ini ajang kreativitas dan inovasi seni budaya Karo,  kalau ada Lomba Tari Karo Nasional, inilah tempatnya, Kuta Perbesi menjadi salah satu penjuru dalam dalam pakem Tari Karo akan keindahan Tari Karo. Sudah saatnya juga acara ini melibatkan acara keagamaan. Dari sisi  Pertahanan dan Keamanan, kita tunjukkan dan kita praktekkan bagaimana kita me-manage keamanan di kampung kita. Bahwa Kuta Perbesi Aman dan tenteram, Anak Kuta Perbesi  bukan centeng kuta, tapi  orang yang sopan, bersahabat, berbudaya dan ramah dikunjungi. Endam man cidahenken nakeeeee...

Radu jumpa kita tanggal 22 Juni 2012 i Perbesi, Merdang Merdem tahun 2012. Ruh kam baba luahndu, rumahta i Kesen Rumah Jahe. Apai rumah Sebayang Mergana nindu uga pa pe jumpa nge kam. 

Sentabi ras mejuah-juah.
Tanjungpinang, Juni 2012

gambar diambil dari : www://karosiadi.blogspot.com


Selasa, 07 Februari 2012

Los - Lape -Lape Kuta Perbesi

Fungsi Los pada Masyarakat Karo

Los atau kadang di eja Losd dalam bahasa Karo. Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia Los mempunyai arti rumah besar panjang (pasar dsb); bangsal: --pasar. Kami tidak menemukan sejarah, kapan los hadir dalam masyarakat Karo, apakah sama dengan Jambor atau barangkali Los ini merupakan bentuk baru dari Jambor.  Di Desa Perbesi Los pertama kali dibangun awal tahun 1970-an.

Kalau kita mengingat kepada awal pendirian sebuah Kuta pada jaman dahulu, Suatu Kuta biasanya diawali oleh pendirian satu atau beberapa rumah oleh suatu kelompok tertentu (merga), di sebut Barong. Barong kemudian berkembang sehingga lengkap struktur kekerabatannya dan alat pelengkapannya baru dapat disebut Kuta. Syarat sebuah Kuta adalah disamping adanya rumah-rumah tinggal, harus memiliki : sarana penyembahan kepada Tuhan pada jaman dahulu disebut pajuh-pajuhen (nini galoh), Jambor sebagai tempat musyawarah dan tempat berkumpul pemuda, Perjuman, Perjalangen, dan Tapin. Sedangkan tempat penyelenggaraan pesta adat biasanya di Kesain atau lapangan terbuka yang dibuatkan bangunan beratapkan pelepah kelapa (Lape-Lape). Dari sini terlihat bahwa Los lebih identik dengan Lape-Lape dan bukan alat kelengkapan sebuah Kuta. Dilihat dari pengertian kata diatas  Los adalah pasar, sepertinya juga bukan dari bahasa Karo. Maka dapat kita simpulkan bahwa Los merupakan perwujudan dari kebutuhan  tempat penyelenggaraan Kerja Adat yang lebih Representative sesuai dengan kebutuhan masyarakat Karo, sebagai pasar dan tempat musyawarah. Sehingga Los saat ini telah mengemban paling tidak tiga fungsi yaitu : Sebagai lape-lape, Jambor dan Pasar.

Ketiga fungsi tersebut seharusnya dapat diakomodir dalam pendirian Los Kuta Perbesi saat ini, sebagai lape-lape, malem-malem kita je pulong lako ngerungguken dahin senina, kalimbubu ras anak beru, fungsi Jambor banci ingan arih-arih anak kuta ras sipentingna gundari ingan erlajar anak perana ras singuda-nguda baik dalam bidang seni budaya, olah raga entahpe pengetahuan sideban. Emaka fungsi pasar, ingan erbinaga ras nukor-nukor anak kuta. Semuanya direncanaka dan di buat aturan agar ketiga fungsi tersebut dapat terselenggara dengan tertib.

Emaka meter dungi Los ena nda yah...... Ras - ras kita ngukorkenca, la seri gegeh, simegegeh mbue tamandu, si kurang sitikpe enggome mbue si perluna ke-ersadanta. Ibas bulan enem enda pagi mbera-mbera enggo dung, gelah banci enggo si gunaken. 
Tanjungpinang, Feb 2012.





 

Selasa, 24 Januari 2012

Kibot Karo


GENDANG KIBOT

(MENGANGKAT DAN MELESTARIKAN MUSIK TRADISIONIL KARO)

Keyboard Karo, Gendang Keyboard atau Gendang Kibot entah bagaimana kita mengejanya, atau masih ada lagi istilah lain adalah sebutan untuk penggunaan Syntheiser yang lebih dikenal dengan alat musik keyboard untuk memainkan Musik Karo. Sudah begitu luasnya penggunaan alat musik ini di kalangan Masyarakat Karo sehingga hampir disetiap acara baik acara adat maupun acara pertemuan sosial lainnya selalu di iringi dengan keyboard. Sejauhmanakah perkembangan musik keyboard ini dan bagaimanakah sebaiknya kita bersikap sehingga membawa manfaat secara keseluruhan dalam Masyarakat Karo.

Barangkali kita akan menjadi manusia yang terkucil dan kerdil apabila kita menutup diri dengan kemajuan teknologi, namun disisi lain, apabila kita tidak bijak menggunakannya, kita akan menjadi bak sampah teknologi. Bila tepat menggunakannya teknologi itu sangat indah. Pada tulisan kali ini kita akan membahas khusus perkembangan penggunaan teknologi musik dalam Musik Karo. Kita harapkan Musik Karo itu menjadi musik yang sangat indah, melenget meriso bagi sue-sue rende i tepi kuta, bagi sora pincala i tepi lau biang entah pe bagi sora angin erdeso i datas urok ndeholi.

Pertengahan tahun 1980-an, alat musik keyboard mulai mewarnai musik tradisionil Karo (non band atau diluar studio rekaman). Pada tahun-tahun tersebut sampai awal 1990-an, kami selalu ikut dalam Kepanitiaan Gendang Guro-Guro Aron Tualah Sirulo Perbesi – Medan maupun di lingkungan kampus. Saat itu keyboard dibawa dan dimainkan oleh sierjabaten (penarune) sebagai pelengkap musik tradisionil. Awalnya ada rasa khawatir saat itu, kalau alat musik tersebut akan menggeser alat musik tradisionil dan menghilangkan sifat kesopanan (mehamat) dalam gendang guro-guro aron (tarian karo), musik keyboard terkesan sebagai musik ronggeng, disko atau dangdut yang memperlihatkan gerakan tubuh diluar pakem tarian karo (erputar ras melok-elok buta-butana). Maka sikap kami saat itu adalah, aron landek sada tan hanya satu lagu, salih ku odak-odak ras patam-patam. Keyboard hanya boleh dimainkan pada saat Patam-Patam. Tetapi pakem tersebut tidak dapat bertahan lama, seiring dengan peningkatan teknologi alat musik dan kemampuan pemainnya, Musik Keyboard Karo kemudian semakin diterima masyarakat Karo, lebih jauh lagi Keyboard Karo menemukan warna, bentuk dan cirinya sendiri dan menjadi suatu style musik yang khas. Bolehlah kita namai style Gendang Kibot (Karo), sama seperti style dangdut, country, pop, ballad, rock dan lain-lain. Untuk ini patut kita beri apresiasi yang tinggi kepada Sdr. Djasa Tarigan sebagai salah seorang pelopor keyboard Karo.

Musik Keyboard Karo ini kemudian terlihat berkembang ke dua arah, pertama pengadopsian warna, ritme dan alat musik tradisionil Karo ke dalam keyboard untuk mengiringi lagu-lagu Karo maupun Non Karo, untuk membangunnya dibutuhkan kreativitas, pengetahuan musik, rasa, naluri dan unsur keindahan seni musik karo, hasilnya kemudian adalah suara-suara alat musik tradisionil Karo dalam suara keyboard yang nyaris tidak dapat dibedakan dengan alat musik aslinya, styles-styles musik karo yang khas dan indah, contohnya adalah musik Simalungen Rayat dalam keyboard. Arah yang kedua adalah lagu-lagu Karo diiringi oleh jenis aliran musik tertentu dalam keyboard sehingga hampir tidak ada ciri khas musik tradisionil Karo, maka kemudian lahir lagu rock karo, dangdut karo, teckno karo, dll. Yang pertama menampilkan musik dan lagu karo sedang yang kedua lagu karo dalam cita rasa gado-gado. Mana yang baik untuk kita, tentu saja keduanya tergantung kepada tujuan dan kreativitas penciptaannya. Namun yang akan lebih abadi sebagai ciri khas Karo, universal dan dapat diterima masyarakat lain adalah yang pertama.

Emaka, kam perkeyboard kami, teruslah berkarya, ciptakan styles musik karo yang indah dan khas, tampilkan semua jenis alat musik karo dalam suatu harmoni musik Karo yang indah. Suatu saat maka kita akan mendengar lagu Sunda, Jawa, Indonesia bahkan Lagu Rusia dinyanyikan dalam iringan Musik Karo. Lalu bagaimana dengan alat musik asli tradisionil Karo, apakah tidak akan terlupakan, tentu saja tidak, kalau musik tiruannya dengan bantuan kemajuan teknologi bisa terdengar indah dan disenangi, maka alat musik aslinya pasti akan di cari.

Untuk merangsang pertumbuhan kreativitas ini, mari kita ramai-ramai menciptakan styles musik karo dalam keyboard, kita (pribadi, lembaga,Pemda) adakan Lomba Cipta Styles Musik Karo bukan hanya lomba cipta lagu Karo. Emaka pecek keyboard ena Sakti..., ban laguna Patam Perbesi, sorana ban sora Surdam ras Sarune, kelang-kelangne sora Kulcapi. Iyaaah.. gundari landek kam aron beru Ginting....

Bumi Segantang Lada, Jan 2012.

Selasa, 01 November 2011

Kendala dan Peluang

Hari ini tanggal 1 bulan 11 tahun 2011, kalau ditulis dan dirangkai secara singkat 1 11 11. Lima buah angka satu. Angka satu adalah angka tegak dan lurus, mengartikan dan mengilhami kita agar selalu berbuat lurus dalam pengertian jujur gak usah bengkok-bengkok atau belok-belok, jalan lurus biasanya membuat kita cepat sampai di tujuan. Hari ini kita diberi 5 angka satu, maka akan berarti lima kali penekanan. Bila kita jumlahkan menjadi lima. Banyak angka lima dengan sebutan Panca menjadi pedoman kita hidup. Terlebih lagi Lima mengingatkan kami akan Limang jahen Perbesi, Kuta Limang lima kilometer Perbesi nari. Kelihatannya kok seperti ahli arti angka ?. Tidak..,bukan maksud mengartikan angka-angka atau simbol-simbol hari ini hari istimewa buat kami, karena hari ini Hari Ulang Tahun kami. Dan hari ini, keinginan menulis ringan-ringan kembali datang. Terus apa hubungannya dengan judul tulisan ini. Ini hanya refleksi atas liku kehidupan kami selama ini, topik yang sama pernah kami singgung juga sebelumnya. Kita menjalani hidup ternyata tidak pernah terlepas dari Kendala.

Dalam usia yang semakin tua.... sampai dimanakah sudah pencapaian kita, apakah kita sudah berarti bagi orang lain, keluarga, istri dan anak-anak. Berbagai liku penugasan dan pergaulan, suka dan duka silih berganti. Menemui orang yang ramah, sabar, pengertian, pemarah, disiplin, kaya, sederhana, penuh intrik, jujur, JaIm, dan bermacam type manusia semuanya akan kita temui dan harus bergaul dengan mereka. Dalam menapaki hidup kita juga dihadapkan dengan ketidak mampuan kita: kekurangan dari sisi materi, waktu atau kesempatan. Apakah sifat orang yang kita temui tersebut dan keterbatasan kita akan merubah tujuan hidup kita ?.

Itulah yang kami sebut dengan kendala atau halangan, boleh juga kadang-kadang dalam bentuk yang kita sebut kegagalan. Kita tidak akan pernah lepas darinya. Dalam kata-kata penghiburan atau kata-kata untuk memotivasi, sering kita dengar " ada hikmah dalam setiap peristiwa". Kata ini kami yakini adanya, inilah kata yang benar, tidak ada suatu peristiwa berdiri sendiri.

Dalam bahasa menejemen, kita terjemahkan, dalam setiap Kendala pasti ada Peluang. Janganlah kendala atau kegagalan yang datang kepada kita, tidak kita manfaatkan menjadi peluang, sekecil apapun peluang itu. Paling tidak, kalau kita kejatuhan buah durian, jangan dibuang duriannya tetapi makanlah itu.

Tanjungpinang 1-11-11

Senin, 30 Mei 2011

Alvin Toffler VS Taneh Karo Simalem


Alvin Toffler, futuris asal Amerika dalam bukunya Third Wave (1980), menyodorkan konsep pembagian gelombang masyarakat dalam tiga masa. Gelombang pertama adalah revolusi pertanian, dimana masyarakat sudah mulai mengenal tata cara pertanian yang menetap dan hidup dari hasil-hasil pertanian, gelombang kedua disebut revolusi idustri, ditandai dengan pemanfaatan mesin-mesin industri untuk produk massal. Gelombang ketiga yang saat ini sudah mulai berlangsung adalah informasi.
Dalam bidang penulis... kami menyikapi pendapat Pak Alvin seperti ini: manusia berperang akan menggunakan alat ekonominya, pada masa revolusi pertanian, alat-alat perang akan menggunakan alat-alat pertanian, seperti parang, pedang, tombak, dll. Pada revolusi industri, manusia berperang dengan alat-alat mesin, seperti senapan, tank, kapal, dll. Pada saat ini dan kedepan, manusia berperang menggunakan informasi dan sering disebut abad ini adalah abad informasi (Siapa yang menguasai informasi, maka dia akan berkuasa).
Taneh Karo Simalem mungkin tidak pernah didengar oleh Alvin Toffler dan barangkali juga tidak ada hubungannya (Ndohsa ..... nina Juhar ah). Tetapi konsep pemikiran Alvin Toffler, apakah tidak akan berlaku di Taneh Karo Simalem ?. Kelihatannya berlaku. Kalau berlaku bagaimana kita menyikapinya, suatu konsep berpikir yang begitu gamblang dibeberkan dan telah banyak diadopsi oleh banyak institusi tentunya perlu juga kita terima di Taneh Karo Simalem.
Sumber mata pencaharian di Taneh Karo Simalem, sampai saat ini masih dominan dari pertanian (apakah kita masih berada pada revolusi pertanian ??), sedikit sekali industri berkembang di Taneh Karo Simalem, kalaupun ada hanya industri kecil dan industri rumah. Saat ini orang sudah berada di abad informasi dan sudah banyak yang mencicipi madunya, bagaimana dengan kita.
Maka sudah saatnya kita mulai menyongsong abad baru ini, marilah kita hidup sesuai masa-nya. Kembangkanlah pertanian dalam skala industri dengan ditunjang oleh penguasaan akan informasi. Alangkah indahnya bila kita dapat mengolah Jagung menjadi bahan roti di Taneh Karo dan dijual langsung ke Eropah atau Amerika. Pulu kampong kutanta mereken informasi cuaca ras rega-rega senuan-senuan alu mengikuti informasi arah internet si lit bas kantor kepala desa. Emaka lit ka sireban selop ras bulang/songkok bas batang jong nari i dayaken ku Malaysia ras Kanada.

Bas bulan enem enda kerja tahun kutanta, ruh kam. Lit je gatgat perbesi. Palu gendang ena penggual, ban laguna Perkantong Samping salihna ku Chaiya-Chaiya....

Tanjung Pinang, Mei 2011.

Gambar dimabil dari: http://karosiadi.blogspot.com

Kamis, 26 Agustus 2010

Model Kepemimpinan Masyarakat Karo


1. Pendahuluan.
Kepemimpinan adalah kemampuan seseorang mempengaruhi orang lain untuk berpikir dan berperilaku dalam rangka perumusan dan pencapaian tujuan. Dalam bahasa yang lebih praktis, kepemimpinan adalah proses mempengaruhi dan membawa pengikut atau orang yang dipimpin mencapai tujuan organisasi. Cara-cara memimpin sudah menjadi disiplin ilmu yang dirumuskan dalam teori-teori kepemimpinan, sehingga dapat dipelajari dan dilatih. Teori kepemimpinan yang dikenal saat ini, umumnya berasal dari model kepemimpinan barat modern maupun post modern atau model kepemimpinan Jawa warisan nenek moyang yang biasanya dirumuskan dalam bahasa sansekerta dan banyak dianut di Indonesia.
Masyarakat Karo, adalah suatu masyarakat yang tua, walaupun belum didukung oleh bukti sejarah yang tertulis, diyakini bahwa nenek moyang orang Karo pernah memiliki kerajaan besar Haru. Warisan model kepemimpinan apakah yang ditinggalkan kerajaan tersebut untuk kita, dimanakah kita dapat mempelajarinya dan apakah dapat kita gunakan sebagai Model Kepemimpinan Khas Karo untuk membangun Taneh Karo Simalem.

2. Model-Model Kepemimpinan
Untuk dapat mengenal model kepemimpinan Karo, sebaiknya terlebih dahulu kita mengenal beberapa model kepemimpinan yang sekarang banyak digunakan oleh para pemimpin dan menjadi sifat dari kepemimpinannya.

a. Type Kepemimpinan Rumusan Barat.
1) Paternalis. Kebapaan, model kepemimpinan yang melindungi, tempat bertanya, hubungan informal, pengambilan keputusan terpusat, model ini biasanya tidak timbulkan kreatifitas.
2) Laisser Faire (let think alone). Model kepemimpinan pasif, menganggap semua staf atau bawahannya dewasa, permisif, kepentingan bawahan diperhatikan, bawahan dianggap rekan, mendorong kreatifitas, tidak intervensif.
3) Demokratis. Model kepemimpinan dimana pemimpin berlaku sebagai koordinator dan integrator, menjunjung harkat manusia, pengambilan keputusan kolektif, korektif dan edukatif terhadap kesalahan bawahan, mendorong inovasi serta mengajak bawahan ikut berpartisipasi.
4) Diktator. Model kepemimpinan yang terpusat pada satu pemimpin, berupa pemaksaan kehendak pemimpin, arus informasi hanya satu arah dari atas ke bawah.

b. Model Kepemimpinan Sun Tzu
Di China kita mengenal Sun Tzu yang meletakkan model kepemimpinan yang dikenal dengan SPARKLE Sun Tzu berupa : Self discipline, purpose, accomplishment, responsibility, knowledge, laddership and example.

c. Asta Brata R. Ngabehi Yosodipuro (Pujangga Keraton Surakarta). Model kepemimpinan ini menggambarkan sifat-sifat pemimpin berdasarkan sifat-sifat alam. Model ini banyak dianut oleh pemimpin Indonesia:
1) Matahari. Penuh energi dan menerangi.
2) Bulan. Indah dan menyejukkan.
3) Bintang. Pemberi petunjuk arah.
4) Angin. Mengisi setiap tempat kosong.
5) Awan. Menakutkan tapi memberi kehidupan.
6) Api. Tegas tidak pandang bulu.
7) Laut. Luas memuat apa saja.
8) Bumi. Kokoh.

d. Siapakah Pemimpin.
Who is leader? A leader is one who : Know thw way, show the way. and goes the way. Banyak kata yang dapat diberikan untuk menggambarkan seorang pemimpin. Kita juga mengenal gaya-gaya kepemimpinan beberapa pemimpin kita seperti : Soekarno yang orator ulung, kharismatis dan weruh sadurunging winarah, beliau memiliki intuisi yang tinggi sehingga seakan tahu sebelum terjadi. Soeharto yang selalu mengingatkan ojo gumunan, ojo kagetan dan ojo dumeh sehingga setiap saat siap dengan perubahan dan rendah hati. Presiden SBY yang digambarkan Bhirawa Anoraga, gagah perkasa di luar lembut di dalam. Seorang pemimpin sejati selalu siap menyingsingkan lengan bajunya untuk sesuatu, bahkan untuk hal yang tidak dapat dilakukan orang lain sekalipun, ia melakukan banyak hal sehingga orang lain besemangat melakukannya (Charles De Gaulle).

3. Model Kepemimpinan Karo
Sepintas kita telah melihat bentuk-bentuk kepemimpinan dan banyak lagi bentuk kepemimpinan yang lain. Diantara bentuk, type ataupun model tersebut, bagaimanakah model kepemimpinan Karo yang kiranya dapat dianut dan diterapkan oleh pemimpin di Taneh Karo Simalem. Untuk mencari bentuk kepemimpinan tersebut kita tidak memiliki warisan tulisan dari lelulur seperti buku Negara Kretagama, Serat Centini, Mahabarata, Ramayana dan lainnya seperti suku lain. namun kita ditinggali sikap hidup, kebiasaan, adat, kuan-kuanen dan pedah-pedah.

a. Demokrasi.
Dari tulisan-tulisan sejarah diyakini bahwa pernah terdapat Kerajaan Karo di wilayah Sumatera. Kerajaan Karo ini terdiri dari beberapa dinasti yang bisa disebut Kerajaan Haru, Aru, Guri, Deli, Dll. Letak kerajaan ini bila dilihat dari motif penyebaran penduduk saat itu akan berada di pesisir pantai atau di sekitar sungai besar. Akibat pertentangan atau invasi dari kerajaan lain, kerajaan Karo sering mengalami perubahan dinasti atau dalam taklukan. Kerabat kerajaan dan rakyat yang tidak bersedia dalam taklukan berpindah dalam kelompok-kelompok kecil ke arah pegunungan yang kita kenal sebagai wilayah Taneh Karo saat ini membentuk kuta yang bebas tidak dibawah kekuasaan sebuah kerajaan. Dalam menyelenggarakan aturan atau pemerintahan, mereka membentuk kekuasaan bersama dalam hubungan senina, kalimbubu dan anak beru. Dalam perkembangannya kemudian, karena sedah semakin banyak desa akibat pertumbuhan penduduk atau migrasi baru, terbentuk Perbapaan, Urung dan Sibayak. Namun hirarki ini bukan bersifat mengatur lebih mengarah kepada pencegahan dan penyelesaian persengketaan belaka. Dengan latar belakang seperti inilah maka sejak dahulu orang Karo tidak mengenal kasta, memandang semua manusia sama, tidak mengenal sikap sebagai abdi atau kaulo seperti di Jawa ( maka tidak mengherankan walaupun seorang anak kuta telah mencapai posisi tinggi di pemerintahan, apabila pulang ke desa akan dianggap sama seperti masyarakat lainnya), mereka mengedepankan musyawarah dan mufakat (runggu) dan menjungjung tinggi aturan adat.

b. Terbuka dan Menghargai.
Dari peribahasa dan ajaran-ajaran hidup yang dituturkan secara turun-menurun, kita dapat mengenal sikap keterbukaan dan menghargai orang Karo.
1) Ula belasken kata la tuhu kata tengteng banci turiken. Pintar dalam memilih kata dalam berbicara, sehingga tidak menyakitkan perasaan orang walaupun yang dibicarakan tersebut tentang kesalahan atau kelemahan orang tersebut, inilah sifat menghargai dari orang Karo.
2) Bagi Sinungkir buluh sengawan. Dalam bermusywarah, harus berterus terang sehingga tidak akan menimbulkan banyak pendapat dan penafsiran. Katakanlah ya bila ya, tidak bila tidak.
3) Bagi surat ukat, rendi enta. Saling memberi dan saling mengalah, dalam kehidupan kita tidak boleh hanya menerima tetapi juga harus memberi.
4) Ermela malu ibas enggeluh. Yang membatasi atau mengatur perbuatan adalah rasa malu kepada diri sendiri dan kepada orang alin. Lebih memalukan digunjingkan orang lain dari pada mendapat hukuman penjara.

c. Beradat.
Bila kita melihat kepada model kepemimpinan non formal pada upacara-upacara adat dan individu tertentu di masyarakat, pribadi yang sangat dihormati dan dihargai memiliki ciri:
1) Peduli. Seorang pribadi akan dihormati dan dihargai orang lain apabila rajin mengunjungi orang lain, baik diundang (pesta) maupun tidak diundang (menjunguk orang sakit).
2) Meteh adat. Mengerti dan menjalankan sikap sebagai masyarakat sesuai adat Karo (tutur siwaluh, rakut sitelu). Mengerti menjalankan tata upacara adat, mulai dari adat kelahiran sampai kematian dan dapat menyelenggarakan pesta adat kalimbubu maupun anak beru seninana-nya.
3) Pintar Berbicara. Bahasa Karo tidak mengenal kalimat lembut dan kasar, namun ada orang yang dapat memilih kata dengan baik. Dalam pesta adat kebiasaan berbicara sangat perlu , kadang diselingi dengan pribahasa. Orang yang pintar berbicara akan dihargai untuk mengagungkan suasana pesta dan juga sebagai juru damai.
4) Berpengetahuan. Orang Karo sangat menghargai orang yang memiliki kemampuan melebihi dirinya apabila ditunjukkan tidak dengan merendahkan orang lain. Pada jaman dahulu guru-guru atau dukun sangat dihargai. dalam konteks kekinian orang yang demikian dapat disejajarkan dengan orang yang memiliki pengetahuan luas.

4. Kesimpulan.

a. Mempelajari teori kepemimpinan pada akhirnya bukan untuk mempelajari cara-cara memimpin tetapi lebih kepada bagaimanakah sifat-sifat seorang pemimpin atau bagaimanakah seharusnya seorang pemimpin bersikap. Untuk Model Kepemimpinan Karo sifat-sifat kepemimpinan tersebut adalah :

1) Demokratis dan taat pada aturan. Memandang semua orang sebagai saudara dan sederajat.
2) Terbuka dan menghargai. Terbuka dalam setiap permasalahan dan menghargai pendapat orang lain.
3) Beradat. Mengerti bersikap sebagai orang Karo dan Mengerti tata acara adat Karo.

b. Masih banyak pedah tua-tua sinuria yang kiranya dapat kita adopsi sebagai Model Kepemimpinan Karo dan mungkin juga dapat disimbolkan dengan alam Taneh Karo, seperti sifat Deleng Sibayak, Bulan, Bintang atau Lau Biang simalem. Tulisan ini hanyalah setitik dari kekayaan budaya karo.